7 Nasehat Indah Dari Jalaludin Ar – Rumi

“Dalam hal kedermawanan & menolong orang, jadilah spt sungai”

  • Syarah: Biarkan mengalir tiada henti & tak mengharap kembali…

“Dalam kasih-sayang & berkah, jadilah seperti matahari”

  • Syarah: Memberi kehangatan, kepada siapa saja tanpa diskriminasi…
“Dalam menutupi aib seseorang, jadilah seperti malam”
  • Syarah: Menutupi semuanya rapat-rapat tanpa pernah membocorkannya…

“Dlm keadaan marah & murka, jadilah seperti orang mati”

  • Syarah: Diam, jangan lakukan apa pun, agar tak kesalahan & menyesal kemudian…

“Dalam hal kesederhanaan & kerendahhatian, jadilah seperti bumi”

  • Syarah: Selalu menempatkan diri di bawah & meninggikan yang lain…
“Dalam hal toleransi, jadilah seperti laut”
  • Syarah: “Berlapang dada se-lapang lapangnya & siap menampung pandangan pandangan yg berbeda…
“Tampillah seperti diri sejatimu, atau jadilah seperti tampilanmu”
  • Syarah: Hiduplah dengan penuh integritas, sama antara lahir dengan batin…

 

7 Nasehat Indah Ar Rumi

 

Kupas Tuntas Tentang Kredit Leasing (Semua Pihak Yg Terlibat Dunia Leasing)

Kredit yang dilakukan secara langsung antara pemilik barang dengan pembeli merupakan transaksi perniagaan yang dihalalkan dalam syariat.

Bahkan meskipun harga beli kredit lebih tinggi dibandingkan harga harga beli tunai. Inilah pendapat yang paling kuat, yang dipilih oleh mayoritas ulama.

Kesimpulan hukum ini berdasarkan beberapa dalil berikut:

Pertama, firman Allah Ta ‘ala

يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282)

Akad kredit termasuk salah satu bentuk jual beli utang. Dengan demikian, keumuman ayat ini menjadi dasar bolehnya akad kredit.

Kedua, Hadits riwayat ‘Aisyah radhiyalahu ‘anha.

اشترى رسول الله صلى الله عليه و سلم من يهوديٍّ طعاماً نسيئةً ورهنه درعَه. متفق عليه

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli sebagian bahan makanan dari seorang yahudi dengan pembayaran dihutang, dan beliau menggadaikan perisai beliau kepadanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Pada hadits ini, Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wa sallam membeli bahan makanan dengan pembayaran dihutang, dan sebagai jaminannya, beliau menggadaikan perisainya.

Dengan demikian hadits ini menjadi dasar dibolehkannya jual-beli dengan pembayaran dihutang, dan perkreditan adalah salah satu bentuk jual-beli dengan pembayaran dihutang.

Ketiga, Hadits Abdullah bin ‘Amer bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhu.

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم أمره أن يجهز جيشا قال عبد الله بن عمرو وليس عندنا ظهر قال فأمره النبي صلى الله عليه و سلم أن يبتاع ظهرا إلى خروج المصدق فابتاع عبد الله بن عمرو البعير بالبعيرين وبالأبعرة إلى خروج المصدق بأمر رسول الله صلى الله عليه و سلم. رواه أحمد وأبو داود والدارقطني وحسنه الألباني

“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mempersiapkan suatu pasukan, sedangkan kita tidak memiliki tunggangan, Maka Nabi memerintahkan Abdullah bin Amer bin Al ‘Ash untuk membeli tunggangan dengan pembayaran ditunda hingga datang saatnya penarikan zakat. Maka Abdullah bin Amer bin Al ‘Ashpun seperintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli setiap ekor onta dengan harga dua ekor onta yang akan dibayarkan ketika telah tiba saatnya penarikan zakat. (HR. Ahmad).

Hukum Kredit dengan Leasing

Istilah leasing berasal dari kata lease yang berarti sewa-menyewa. Dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, leasing diistilahkan “sewa guna usaha”.

Leasing dengan hak opsi (finance lease) banyak dilakukan dalam kredit motor, mobil, barang elektronik, furnitur, dan lain-lain yang diberikan oleh berbagai bank atau lembaga pembiayaan.

Praktik yang biasa terjadi sebagai berikut (misal leasing motor) : seorang (misal fulan) datang ke lembaga pembiayaan dan ingin membeli motor secara kredit karena tak punya uang tunai. Lembaga pembiayaan membeli motor dari suplier/dealer motor, lalu dilakukan akad leasing antara lembaga pembiayaan dengan Fulan misalnya dalam jangka waktu tiga tahun.

Dalam akad leasing itu terdapat fakta transaksi sebagai berikut:

Pertama, lessor (lembaga pembiayaan) sepakat setelah motor itu dia beli dari dealer/suplier, dia sewakan kepada lessee selama jangka waktu tiga tahun.

Kedua, lessor sepakat setelah seluruh angsuran lunas dibayar dalam jangka waktu tiga tahun, lessee (Fulan) langsung memiliki motor tersebut.

Ketiga, menurut fakta leasing yang ada, selama angsuran belum lunas dalam jangka tiga tahun itu motor tetap milik lessor.

Keempat, motor itu dijadikan jaminan secara fidusia untuk leasing tersebut. Karena itu BPKB motor itu tetap berada di tangan lessor hingga seluruh angsuran lunas. Konsekuensinya jika lessee (Fulan) tidak sanggup membayar angsuran sampai lunas, motor akan ditarik oleh lessor dan dijual.

Kelima, barang yang dijual belum selesai diserahterimakan. Maksudnya, ketika pihak lessor membeli motor dari dealer, barang itu belum diserahkan/berpindah tempat dari dealer ke lessor, tetapi langsung dijual kembali kepada lessee (fulan).

Leasing ini (finance lease) hukumnya haram, berdasarkan dalil-dalil berikut:

Pertama, dalam leasing terdapat penggabungan dua akad.

Yaitu sewa menyewa dan jual beli, menjadi satu akad (akad leasing). Padahal hukum syara’ telah melarang penggabungan akad menjadi satu akad.

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَفْقَتَيْنِ فِي صَفْقَةٍ

” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua kesepakatan dalam satu kesepakatan.” (HR. Ahmad, Al Musnad, I/398).

Kedua, dalam akad leasing biasanya terdapat bunga.

Maka harga sewa yang dibayar per bulan oleh lesse bisa jadi dengan jumlah tetap (tanpa bunga), namun bisa jadi harga sewanya berubah-ubah sesuai dengan suku bunga pinjaman. Atau apabila lesse telat membayar cicilan maka dikenakan denda yang pada hakikatnya bunga.

Maka leasing dengan bunga seperti ini hukumnya haram, karena bunga termasuk riba:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

” Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah [2] : 275)

Ketiga, dalam akad leasing terjadi akad jaminan yang tidak sah, yaitu menjaminkan barang yang sedang menjadi obyek jual beli.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami berkata :

“Tidak boleh jual beli dengan syarat menjaminkan barang yang dibeli.: (Al Fatawa al Fiqhiyah al Kubra, 2/287).

Imam Ibnu Hazm berkata:

” Tidak boleh menjual suatu barang dengan syarat menjadikan barang itu sebagai jaminan atas harganya. Kalau jual beli sudah terlanjur terjadi, harus dibatalkan.” (Al Muhalla, 3/437).

Keempat, terlarangnya menjual barang yang belum selesai diserahterimakan.

Larangan menjual barang yang belum selesai diserahterimakan ini berlaku bagi bahan makanan dan barang lainnya. Oleh sebab itu, barang yang sudah dibeli harus berpindah tempat terlebih dahulu sebelum dijual kembali kepada pihak lain.

Ibnu ‘Umar juga mengatakan :

كُنَّا فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَبْتَاعُ الطَّعَامَ فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِى ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ.

“Kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan. Lalu seseorang diutus pada kami. Dia disuruh untuk memerintahkan kami agar memindahkan bahan makanan yang sudah dibeli tadi ke tempat yang lain, sebelum kami menjualnya kembali.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda :

مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ

“Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.”

Ibnu ‘Abbas mengatakan :

وَأَحْسِبُ كُلَّ شَىْءٍ مِثْلَهُ

“Aku berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana penjelasan sebelumnya, bahwa hukum membeli barang apakah itu motor, mobil, barang elektronik dan yang lainnya melalui leasing adalah haram. Sebab ada beberapa unsur pelanggaran syariah di dalamnya, termasuk diantaranya adalah riba.

Sedangkan riba diharamkan oleh Allah Ta’ala:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

…padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba… (QS Al Baqarah [2] : 275)

Oleh sebab itu bekerja menarik riba termasuk di dalamnya leasing, bank konvensional, bank keliling, koperasi simpan pinjam yang menerapkan bunga, termasuk rentenir alias lintah darat adalah perbuatan yang dengan tegas diharamkan dalam Islam.

Meskipun seseorang yang bekerja di perusahaan pemungut riba itu hanya menjadi seorang teller, marketing atau debt collector, pada dasarnya sama-sama terkena dosa dan dilaknat oleh Rasulullah Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wa sallam.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤَكِّلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah telah melaknat pemakan riba, pemberi makan dengannya, penulisnya dan kedua saksinya. Beliau mengatakan, “Mereka itu sama saja.” (HR. Muslim).

Selain itu, orang-orang yang memakan riba mendapatkan berbagai macam ancaman dari Allah Ta’ala.

Pertama, orang yang selalu makan riba akan mendapatkan tekanan jiwa atau bahkan seperti orang gila.

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

” Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila… (Q.S. Al-Baqarah: 275).

Kedua, pemakan riba diancam dengan kekalnya api neraka.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

” Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah [2] : 275)

Ketiga, pelaku riba akan mendapatkan kerugian duniawi, bisa jadi Allah Ta’ala segerakan azabnya di dunia dengan memusnahkan hartanya atau menghilangkan keberhakannya .

Allah Ta’ala berfirman:

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

 “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. ” (Q.S. Al-Baqarah: 276).

Keempat, pelaku riba diperangi oleh Allah dan RasulNya karena kezalimannya tersebut.

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

” Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Q.S. Al-Baqarah: 279).

Kelima, dosa pelaku riba yang paling ringan adalah seperti berzina dengan ibu kandungnya sendiri,na’udzubillah min dzalik.

Rasulullah Muhammad Shollallahu ’Alaihi Wa sallam bersabda :

الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَاباً، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ

“ Riba ada tujuh puluh tiga tingkatan. Yang paling ringan adalah seperti seseorang yang menzinai ibunya.” (HR. Al-Hakim).

Keenam, adzab pedih bagi pelaku riba di neraka pernah diperlihatkan kepada Rasulullah Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wa sallam dalam peristiwa isra’ mi’raj.

Dalam hadits lain diceritakan :

أَتَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى قَوْمٍ بُطُونُهُمْ كَالْبُيُوتِ فِيهَا الْحَيَّاتُ تُرَى مِنْ خَارِجِ بُطُونِهِمْ، فَقُلْتُ: “مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرَائِيلُ؟” قَالَ: “هَؤُلَاءِ أَكَلَةُ الرِّبَا

“Pada malam Isra’ aku mendatangi suatu kaum yang perutnya sebesar rumah, dan dipenuhi dengan ular-ular. Ular tersebut terlihat dari luar. Akupun bertanya, “Siapakah mereka wahai Jibril?”. “Mereka adalah para pemakan riba” jawab beliau”. (HR. Ibn Majah no. 2273).

Kupas Tuntas Tentang Leasing

 

Prihatin Banget, Kemenag Bolehkan Muslim Pakai Atribut Natal demi Kepentingan Bisnis

Sangat disayangkan sikap Kemenag yang mengeluarkan pernyataan melalui Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Dirjen Bimas Islam Kemenag), Machasin :

“Kalau untuk kepentingan bisnis bukan masalah. Seperti pada hari raya Islam saja misalnya, banyak non muslim di televisi yang ikut memakai atribut Islam, itu kan sama, tidak apa-apa,” ujarnya pada Republika Online, Senin (8/12/2014).

Ia melanjutkan, kepentingan bisnis itu misalnya karyawan perusahaan seperti di pusat-pusat perbelanjaan atau mal yang disuruh majikannya untuk mengenakan atribut Natal. Begitu juga tayangan televisi, kata dia, yang umumnya serba-serbi atribut natal untuk menyambut hari raya umat kristiani, 25 Desember itu.

“Karena sudah tradisi, memakai atribut boleh saja karena tidak mengubah apa-apa, asalkan tidak merubah keyakinan iman dia sebagai seorang muslim,” jelasnya.

Machasin mengatakan, larangan yang umumnya disebutkan tokoh agama menurut dia dikarenakan kekhawatiran akan menghilangkan iman. “Kalau zaman khalifah melarang muslim berpakaian non muslim, itu kan kebijakan saat itu,” ujarnya.

Tapi, ujar dia, kondisi Indonesia sendiri saat ini sudah bertradisi menyangkut atribut natal tersebut.

Apakah ini dinamakan toleransi umat beragama yang notabene mayoritas penduduknya termasuk salah satu muslim terbesar di dunia ?

Padahal, sudah berabad-abad yang lalu para ulama salafus shalih melarang Umat Islam ikut serta dalam menyebarkan syiar-syiar kekafiran, termasuk di dalamnya menggunakan atribut natal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- yang merupakan guru dari Al-Imam Ibnu Katsir, Ibnul Qayim Al-Jauziyah dan sejumlah ulama besar lainnya, pernah menulis fatwa tentang haramnya turut serta dalam syiar orang-orang kafir.

“Segala Puji Hanya Bagi Allah, Tidak halal bagi seorang muslim untuk menyerupai mereka (orang-orang kafir) dalam segala hal yang menjadi yang ciri khas perayaan hari-hari besar mereka, tidak membantu mereka dengan makanan, pakaian, menyediakan penerangan, dan lain sebagainya. Kita juga tidak diperkenankan mengadakan perayaan, dukungan finansial, atau kegiatan perdagangan yang bertujuan memudahkan terselenggaranya acara tersebut.

Demikian juga tidak mengizinkan anak-anak berpartisipasi di tempat-tempat bermain dalam rangka memeriahkan hari raya mereka serta tidak berpenampilan perlente demi menyambut acara tersebut.”

Masih dalam uraian fatwa yang sama, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahkan mengutip sikap Umar Bin Khattab yang melarang orang-orang kafir (Kristen) menampakkan hari raya mereka.

” Amirul Mukminin Umar bin Khathab, para sahabat Nabi, dan para ulama menyaratkan bagi orang-orang Nasrani (non-Islam) untuk tidak menampakkan perayaan hari raya mereka di negeri-negeri Islam dan mereka diharuskan merayakannya secara sembunyi-sembunyi di rumah-rumah mereka.”

Jika orang kafir sendiri saja dilarang menampakkan syiar hari raya mereka, bagaimana gerangan dengan kaum Muslimin sendiri?

Sampai-sampai Umar bin Khattab berkata; janganlah kalian mempelajari jargon-jargon orang ajam, dan janganlah kalian memasuki gereja-gereja orang musyrik pada hari raya mereka, karena sesungguhnya kemurkaan Allah turun pada mereka. lantas bagaimana orang akan melakukan apa-apa yang dimurkai Allah, termasuk diantaranya adalah syiar-syiar agama mereka?

Telah berkata, lebih dari satu ulama salaf tentang firman Allah {وَاَلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ} Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu (QS Al-Furqan: 72), mereka berkata adalah hari raya orang-orang kafir. apabila yang dimaksud memberi kesaksian adalah tanpa dilakukan dengan perbuatan, bagaimana dengan dengan orang yang melakukannya itu dengan perbuatan yakni mengistimewakannya.

Dalam kitab musnad dan sunan diriwayatkan bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ وَفِي لَفْظٍ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum (komunitas), maka dia termasuk bagian dari kaum (komunitas) tersebut.” (HR. Abu Daud)

Dalam hadis lain “Bukanlah bagian dari kami bagi mereka yang menyerupai orang-orang selain kami.” Status hadis ini jayyid.

Apabila menyerupai mereka dalam permasalahan kebiasaan saja terlarang, bagaimana pula hukumnya menyerupai mereka dengan sesuatu yang lebih esensial, yakni menyerupai mereka dengan cara turut memeriahkan hari raya mereka ?

Sebagian ulama ada yang mengharamkan atau memakruhkan memakan sembelihan mereka yang diperuntukkan untuk perayaan hari raya mereka. Mereka mengategorikan sembelihan tersebut adalah sembelihan yang dipersembahkan untuk selain Allah.

Mereka para ulama tersebut juga melarang berperan serta dalam hari raya tersebut, baik dalam bentuk memberi hadiah atau menyediakan komoditi dagang untuk memeriahkan hari raya mereka.

Mereka mengatakan :

“ Tidaklah halal bagi seorang muslim mengadakan transaksi dagang dengan orang Nasrani berkaitan dengan maslahat perayaan hari raya mereka, tidak menjual daging, pakaian, tidak menolong mereka dalam suatu perkara yang menjadi bagian dari agama mereka. Karena yang demikian termasuk mengagungkan kesyirikan mereka, memberi motivasi, dan dorongan moral dan material terhadap kekufuran mereka.”

Karena Allah Ta’ala berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“ Tolong-menolonglah kalian dalam perkara kebaikan dan takwa, janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2).

Seorang muslim dilarang tolong menolong dalam hari raya kafir, dengan menjual minuman khamr dan bahan perasan lainnya (untuk dibuat khamr).

Lantas bagaimana gerangan bila yang dilakukan adalah membantu dalam syiar-syiar perayaan hari raya orang kafir?

Dan apabila menolong dalam syiar perayaan orang kafir saja dilarang, bagaimana gerangan dengan melakukan syiar kekufuran itu sendiri?

 

Games Pramuka

Dibawah ini ada beberapa games yang mungkin bisa bermanfaat buat sobat-sobat Pramuka :

  1. http://www.4shared.com/office/TurTCmJY/priorityinlife.html
  2. http://www.4shared.com/office/l9ybXn4h/profesionalkah_anda.html
  3. http://www.4shared.com/zip/_RTBTX-g/Quiz_Tegak_01.html
  4. http://www.4shared.com/rar/s_ZnTw7w/_2__Quiz_Galang_01.html
  5. http://www.4shared.com/document/dSsliPQ9/simpetaindo.html

Sumber : http://www.pramukanet.org

 

SURVIVAL

Mengapa Ada Survival

Timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tersebut antara lain :

  • Keadaan alam (cuaca dan medan)
  • Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang dan tumbuhan) 
  • Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan kesehatan) 

Banyaknya kesulitan-kesulitan tersebut biasanya timbul akibat kesalahan-kesalahan kita sendiri.

 

Definisi Survival

Arti survival sendiri terdapat berbagai macam versi, yang akan dibahas di sini hanyalah menurut versi pencinta alam :

S          : Sadar dalam keadaan gawat darurat

U         : Usahakan untuk tetap tenang dan tabah

R         : Rasa takut dan putus asa hilangkan

V         : Vitalitas tingkatkan

I          : Ingin tetap hidup dan selamat itu tujuannya

V         : Variasi alam bisa dimanfaatkan

A         : Asal mengerti, berlatih dan tahu caranya

L         : Lancar, slaman, slumun, slamet

Jika sobat tersesat atau mengalami musibah, ingat-ingatlah arti survival tadi, agar dapat membantu sobat keluar dari kesulitan. Dan yang perlu ditekankan jika sobat tersesat yaitu istilah “STOP” yang artinya :

S          : Stop & seating / berhenti dan duduklah

T         : Thingking / berpikirlah

O         : Observe / amati keadaan sekitar

P         : Planning / buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan

 

Kebutuhan survival

Yang harus dipunyai oleh seorang survivor (penyelamat)

1. Sikap mental 

    Semangat untuk tetap hidup,  Kepercayaan diri,  Akal sehat,  Disiplin dan rencana matang serta  

    Kemampuan belajar dari pengalaman

 

2. Pengetahuan

    Cara membuat bivak, Cara memperoleh air, Cara mendapatkan makanan, Cara membuat api,  

    Pengetahuan orientasi medan, Cara mengatasi gangguan binatang, Cara mencari pertolongan 

3. Pengalaman dan latihan

    Latihan mengidentifikasikan tanaman, Latihan membuat trap, dll 

4. Peralatan 

    Kotak survival, Pisau jungle, dll 

5. Kemauan belajar 

 

Langkah yang harus ditempuh bila sobat/kelompok sobat tersesat :

a) Mengkoordinasi anggota 

b) Melakukan pertolongan pertama (penenangan terhadap anggota yang lemah)

c) Melihat kemampuan anggota (fisik, mental)

d) Mengadakan orientasi medan (naik ke tempat tertinggi seperti puncak pohon dll)

e) Mengadakan penjatahan makanan (di handel satu orang atas keputusan bersama)

f)  Membuat rencana dan pembagian tugas 

g) Berusaha menyambung komunikasi dengan dunia kuar (kode S O S asap dll)

h) Membuat jejak dan perhatian (api, asap, susunan batu dll)

i)  Mencari pertolongan (penebang kayu, pendaki lainnya, jaga wana dll)

j)  Usahakan untuk tidak terpisah sendiri – sendiri (team work)

 

Sumber : http://pramuka.site40.net

Kepemimpinan yang baik diawali berpakaian pramuka yang benar

Seragam Pramuka adalah suatu kostum yang dipakai seseorang sehingga dapat memberikan kesan bahwa pemakainya adalah seorang anggota Pramuka. Dibagian lain seragam pramuka dilengkapi pula dengan atribut berupa tanda-tanda yang melekat pada pakaian seragam pramuka. Sesuai dengan sistem pendidikan yang dilakukan di dalam Gerakan Pramuka, maka pakaian seragam inipun merupakan alat pendidikan, yang diharapkan dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku Pramuka yang mengenakannya. Di Gerakan Pramuka telah diatur dengan Petunjuk Penyelengaraan tentang Seragam Pramuka. Seragam Pramuka memiliki nilai histories, dimana penggunaan warna coklat muda dan coklat tua mengingatkan para pramuka akan pakaian yang digunakan oleh pejuang-pejuang kita di masa revolusi yang lalu, dan para prajurit yang berada di garis pertempuran. Oleh karena itu penggunaan pakaian seragam ini dipakai untuk menanamkan jiwa patriotisme yang besar dikalangan Pramuka. Di samping itu pakaian seragam ini harus praktis, menarik, menyenangkan dan membanggakan bagi pemakainya. 

 

Pada akhir saat ini, kita masih seringkali menyaksikan para pemimpin pramuka, andalan, pembina bahkan peserta didik yang masih belum paham tentang seragam pramuka dan tanda-tanda satuan pada seragam, baik pemakaian dan penggunaannya. Adakalanya seragam Pramuka dengan tandanya dan bahkan ditambah-tambahi tanda lainnya dikenakan sesuai dengan selera dan kemauannya sendiri. Mestinya disaat memakai seragam Pramuka beserta atributnya dapat menjadikan seseorang lebih percaya diri, lebih mantap dalam menjalankan tugas dan kegiatan, serta dapat menjaga dan memberikan image yang baik bagi lingkungan dan dirinya sendiri. Sebaliknya ketika etika berseragam pramuka ini mulai diabaikan, maka akan nampak terkesan apa adanya, asal tempel dan asal ngetrend dll. Perilaku seperti hal tersebut di atas malah dapat mendiskreditkan nilai keberadaan sebuah seragam, sedangkan bagi pemakainya akan mendapatkan image yang kurang baik. 

 

Seorang Pemimpin di Gerakan Pramuka mestinya mengenal betul bagaimana pakaian seragam itu dikenakan, kapan dan dalam acara apa pakaian seragam dipergunakan, demikian pula tanda-tandanya. Seorang pemimpin bila perlu memiliki catatan-gambaran di saat menghadiri sebuah acara baik apakah itu formal maupun non formal. Bilamana hal-hal tersebut ternyata diketahui memang benar-benar belum dipahami oleh seorang pemimpin, maka sudah menjadi kewajiban bagi para Pembina,andalan kwartir, pelatih untuk dapat memberikan masukan, mengingatkan dan menyarankan bagaimana cara berpakaian pramuka yang baik tapi benar. Mengapa demikian ? Seorang pemimpin adalah tokoh sentral yang harus dijaga, baik dalam cara berpakaian dan berpenampilan. Pemimpin akan menjadi tokoh utama yang akan menjadi perhatian dan dilihat bagi khalayak ramai. Bila ini telah dijalankan, tanpa disadari apa yang dilakukan ini sudah menjadikan kita dapat melindungi kewibawaan dan image bagi seorang pemimpin. Jika segan untuk mengingatkan dan memberitahukan maka yang terjadi malah sebaliknya, cemooh dan pembiaran terhadap pemimpinnya melakukan sebuah kesalahan. 

 

Berpijak pada pengalaman penulis, seringkali kita temui pada acara-acara formal dimana tokoh sentral maupun pemimpin pramuka menggunakan seragam maupun atribut yang belum sesuai dengan tata cara berseragam pramuka yang benar. Sebelum tampil atau mengikuti acara tersebut, sebaiknya kita tata atributnya agar nampak rapi dan benar. Kekuranglengkapan seragam pramuka, biasanya sebatas atribut, bahkan dalam pengalaman ini, seorang kepala daerah pun dapat melakukan kekeliruan, tentunya bila perlu kita “ mengorbankan” apa yang kita miliki. Akhirnya kita lebih baik hadir dengan atribut “compang-camping” daripada mendampingi seorang pemimpin dengan berpenampilan buruk. 

 

Pemimipin Pramuka, ketika akan memulai sebuah kepemimpinan di lingkungan kwartir dipastikan akan belajar memahami dan menguasai kewajibannya, apa yang harus dilakukan termasuk bagaimana cara berpakaian yang benar, bila belum paham maka akan menanyakan kepada kepada staf / andalannya. Untuk itu bagi mereka yang notabene pembina pramuka/ pelatih sudah seharusnya memberikan masukan yang sebenar-benarnya. Hindari sikap, yang penting Asal Bapak-ibu Selera (ABS). Hal ini penting agar tidak terjadi kekeliruan dalam penggunaan seragam dan atributnya di kemudian hari. 

 

Di Gerakan Pramuka Seorang Pemimpin adalah teladan bagi yang lainnya. Karenanya kepemimpinan yang baik akan diawali dengan cara berpakaian seragam pramuka yang baik dan benar pula. 

 

( Penulis : Gunawan Sr )

 

Sejarah Gerakan Kepanduan Di Dunia & Indonesia

Gerakan Kepanduan adalah sebuah gerakan pembinaan pemuda yang memiliki pengaruh mendunia. Gerakan kepanduan terdiri dari berbagai organisasi kepemudaan, baik untuk pria maupun wanita, yang bertujuan untuk melatih fisik, mental dan spiritual para pesertanya dan mendorong mereka untuk melakukan kegiatan positif di masyarakat. Tujuan ini dicapai melalui program latihan dan pendidikan non-formal kepramukaan yang mengutamakan aktivitas praktis di lapangan. Saat ini, terdapat lebih dari 38 juta anggota kepanduan dari 217 negara dan teritori.

Baca lebih lanjut