Kesenian Mistis Nini Thowok

Nini Thowok adalah satu dari 690 macam permainan rakyat yang berhasil dikumpulkan oleh Hans Overbeck, dalam bukunya yang berjudul Javaanschen Meisjesspelen en Kinderliedjes pada tahun 1938.

Permainan ini dilakukan oleh anak-anak gadis pada waktu terang bulan purnama, terutama dipilih hari malam selasa kliwon atau Jum’at kliwon dengan dipimpin oleh seorang wanita setengah baya yang sudah menopause.

Nini Thowok berupa sebuah boneka dari siwur ( gayung dari tempurung kelapa ) sebagai kepalanya, dirias ala pengantin jawa: paes, rambut dari pisang muda, ijuk atau janur. Badannya dari wuwu ( bubu, alat penangkap ikan ) diberi tangan dari seikat merang/lidi atau pelepah pisang & diberi berkain kebaya serta stagen.

Sebelum maghrib, boneka ini dibawa ke tempat angker seperti makam atau sumur tua oleh 2 gadis yang belum akil balig ( prawan sunthi ) diiringi oleh pemimpin permainan & dua anak perempuan lainnya sambil menyanyi syair pembuangan: padha mbuang bocah bajang, rambute arang abang ( bersama – sama kita buang anak bajang, rambutnya merah jarang ) berulang – ulang sambil membawa sesaji dan pedupaan yang terus mengepul. Setelah sampai ke tempat yang dituju (Bumi Bana Bathari), pemimpin membacakan mantra lalu boneka ditinggal disitu.

Kira – kira waktu isya’, boneka diambil kembali dari tempat angker itu dan diprosesi serupa dengan waktu pembuangan tadi diiringi syair: padha mupu bocah bajang, rambute arang abang ( bersama – sama mengambil bocah bajang, rambutnya merah jarang ). Boneka akan terasa berat karena ada roh yang merasukinya, digendong oleh 2 gadis yang belum akil balig yang sama, diiringi oleh gadis -gadis lain pembawa sesaji & pedupaan, untuk kemudian diarak ke tempat permainan (biasanya tanah lapang atau halaman yang luas). Disini boneka Nini Thowok disambut dengan nyanyian oleh seluruh penonton: bagea, bagea, bok lara sing lagi teka (selamat datang, bok lara).

Di arena permainan, telah disediakan tikar., klasa bangka & nyiru dimana nantinya Nini Thowok diletakkan, disampingnya diletakkan air & bunga setaman dalam bokor tanah liat, sebuah cermin rias, sisir, suri, bedak, sirih & kelengkapannya, sebuah cuplak jodhog atau alat penerangan kecil dari tanah liat dengan sumbu & minyak kelapa yang terus menyala, pedupaan yang mengepulkan asap terus menerus, sebuah gandhik (alat penggilas jamu), sebuah tumpeng kecil, buah-buahan & jajanan pasar.

Kemudian Nini Thowok dipapanake, didudukkan diatas tampah (nyiru) & diletakkan diatas klasa bangka. kemudian syair – syair pembangun roh bidadari yang turun di arena bermain mulai ditembangkan, seperti :

  • Lir-ilir gunanthi, sabuk cindhe lir gunanthi, gelang gelang layone. Layone bok patra ugung, ugung dening dewa, alah dewa dening sukma alah dewa dening sukma, widadari tumuruna, gumrubyug bareng sesanga, surakasurak iyeee.
  • Lir-ilir lir ilir, tandure wus sumilir, tak ijo royo-royo taksenggoh penganten anyar. Bocah angon, cah angon penekno blimbing kuwi, lunyu – lunyu penekna kanggo masuh dhodhotira. Dhodhotira, dhodhotira kumitir bedhah ing pinggir, dondomana, jumlatana kanggo seba mengko sore.
  • Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane, ya suraka surak iyaaa.
  • Lir-ilir guling, gulinge sukma katon, raga-raga tangia, temonanadhayohira, aja suwe ana dalan, mesakake cah olanan, sing dolan bok lara dewa, alah dewa dening sukma, widadari tumuruna runtung – runtung bareng sesanga, suraka surak iyeee.
  • Lir-ilir kantu, sabuk jingga lir binantu, nglilira uga-uga (orog-orog nglilira), sapanen dhayohira, sapa dhedhayohe bok utama bok supraba, Gagarmayang, tunjung biru, surak apa, surak iyeeee. Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi, lunyu – lunyu penekna. Kangggo suguh dhedhayohe, sapa dhedhayohe bok utama bok Supraba, Gagar mayang, Tunjung Biru, surak apa surak iyeee.

Sementara itu boneka Nini thowok bertambah berat karena roh bidadari di dalamnya udah bangun (wis ndadi), lalu melonjak – lonjak ke atas sampai gadis yang memegang setagennya kerepotan.

Kemudian Nini Thowok menari-nari mengikuti nyanyian yang mengiringi, seperti :

  • Tak kembang-kembang gayam, tinandur tepining kolam, selak gege kembang gayam, selak gege kembang gayam, widodari saweg siram, ya suraka surak iyaa.
  • Tak kembang-kembang laos, tinandur tepining ngelos, selak gege kembang laos, selak gege kembang laos, widodari saweg dandos, ya suraka surak iyaa.
  • Tak kembang-kembang menur, tinandur tepining sumur, selak gege kembang menur, selak gege kembang menur, widadari wedhak pupur, ya suraka surak iyaa.
  • Tak kembang-kembang tluki, tinandur tepining beji, selak gege kembang tluki, selak gege kembang tluki, widodari lagi suri, ya suraka surak iyaa.
  • Tak kembang bang regulo, tinandur tepining bango, selak gege bang regulo, selak gege bang regulo, widodari saweg ngilo, ya suraka surak iyaa.
  • Tak kembang jepen, tinandur tepining lepen, selak gege kembang jepen, selak gege kembang jepen, widadari saweg ngganten, ya suraka surak iyaa.
  • Tak kembang-kembang nipah, tinandur tepining kolah, selak gege kembang nipah, selak gege kembang nipah, widadari saweg mlampah, ya suraka surak iyaa.
  • Tak kembang-kembang suruh, tinandur tepining uwuh, selak gege kembang uwuh, selak gege kembang uwuh, widadari sampun rawuh, ya suraka surak iyaa.

Selama syair – syair tersebut dinyanyikan, gadis – gadis bergantian menyodorkan alat rias kepada Nini thowok, sesuai dengan syair tersebut. Misalnya ketika dinyanyikan tak kembang- kembang gayam… widadari saweg siram, ditunjukkan bokor berisi air kembang setaman yang dimaksudkan sebagai tempat bidadari mandi.

Bilamana dinyanyikan syair tak kembang kembang menur, widadari wedhak pupur, diberikan bedhak. Demikian selanjutnya dengan syair kembang lain, ditunjukkan alat rias yang sesuai. Terkadang gadis-gadis menggoda ngilo, ngilo, ngilo bok penganten ! (bercermin donk bok penganten!) atau wis ayu, wis ayu bok penganten (sudah cantik bok penganten). Demikian berulang-ulang nyanyian ini ditembangkan. Suasana arena menjadi ramai dengan kegembiraan.

Kemudian nyanyian dilanjutkan :

  • Ceplik epring moas, dirompang ramping, moas, ndang dandana, moas, ndang jogeda, moas. Berulang-ulang & Nini thowok menari gemulai, lenggut – lenggut, kemudian beralih ke irama lebih cepat.
  • Papas-papasan (kolang-kaling) mateng, dipencok udan-udan, sig-esigan, rig-erigan, sig-esigan, rig-erigan.
  • Papas-papasan mateng, ditutur udan-udan, rig-rigan, rog-rogan, Nini Cowong njaluk udan.

Setelah ini, mulailah permainan menggoda dan meledek nini Thowok dengan menyembunyikan atau melarikan gandhik yang diakukan sebagai anak Nini thowok. Seorang gadis akan berkata, Ni Thowok, anakmu takjupuk( Ni Thowok, anakmu aku ambil ), kemudian sambil mengembalikan gandhik ketangan Nini thowok, gadis lainnya berkata, ni thowok, gilo anakmu nangis( Ni thowok, ini anakmu nangis ). Kemudian dinyanyikan lagu lela lela ledhung, kembang kolak kembang gadhung dan semacamnya. Ada juga yang meledek, Ni thowok ndhase siwur( Ni thowok, kepalanya gayung ). Nini thowokpun marah lalu mengejar penonton dan menggetok kepala anak yang menggoda dengan kepalanya, sehingga arena menjadi hingar bingar.

Ada juga yang menyanyikan:

  • Ni Thowok, Ni Thowok, rupamu kaya dhuwok, metuwa saka gandhok, dijogedi medhak – medhok.
  • Ni Thowok, Ni thowok, ayu kuning merok – merok, ora susah nganggo kedhok, rupane wis merok – merok.

Kemudian seorang penonton menghampiri Nini Thowok dan menanyakan obat penyakitnya, apakah misalnya daun sambiloto, ya atau bukan? Nini Thowok akan menjawab pertanyaan dengan mengangguk – anggukkan kepala kalau ya dan menggeleng kalau bukan. Atau menunjukkan obatnya dengan lari menuju suatu pohon dan mengetok apa yang dimaksud, terkadang daunnya, terkadang akarnya.

Ada pula yang menanyakan jodohnya atau barangnya yang hilang. Permainan sampai jauh malam. Setelah penonton puas, gadis – gadis yang bergantian memegang setagennya sudah capai, akhirnya dinyanyikan syair :

  • Sumpil-sumpil keli, geronjong bundhel buntute, ya bapak reyong-reyong, Nini Thowok njaluk gendhong, alok-alok, hoosee.

Dan Nini thowok dibawa keliling kampung, kemudian diakhiri dengan memulangkan Nini thowok ke bumi bana bathari atau ke atap rumah dengan menyanyikan syair :

  • Bok lara sira muliha, sing nonton wis padha lunga.

Demikianlah permainan Nini Thowok berakhir.

Nah, para sedherek kadang kinurmatan sedaya, adakah diantara panjenengan di masa kecil dulu ikut permainan Nini Thowok ini? Bagaimana rasanya? Senang, ngeri atau takut? Kalo – kalo ada yang pernah, mbok silakan berbagi pengalaman.

Sumber :

  • Makalah berjudul “ Kearifan Lokal Dalam Permainan Nini Thowok” karya DR. Parwatri Wahjono, disajikan dalam seminar Naskah Kuno Nusantara bertema,” Naskah Kuno Nusantara sebagai Warisan Bernilai Luhur” diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI, 11 – 12 Mei 2005 di Auditorium Perpustakaan nasional RI, Jl. Salemba Raya 28A, Jakarta Pusat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s