Prihatin Banget, Kemenag Bolehkan Muslim Pakai Atribut Natal demi Kepentingan Bisnis

Sangat disayangkan sikap Kemenag yang mengeluarkan pernyataan melalui Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Dirjen Bimas Islam Kemenag), Machasin :

“Kalau untuk kepentingan bisnis bukan masalah. Seperti pada hari raya Islam saja misalnya, banyak non muslim di televisi yang ikut memakai atribut Islam, itu kan sama, tidak apa-apa,” ujarnya pada Republika Online, Senin (8/12/2014).

Ia melanjutkan, kepentingan bisnis itu misalnya karyawan perusahaan seperti di pusat-pusat perbelanjaan atau mal yang disuruh majikannya untuk mengenakan atribut Natal. Begitu juga tayangan televisi, kata dia, yang umumnya serba-serbi atribut natal untuk menyambut hari raya umat kristiani, 25 Desember itu.

“Karena sudah tradisi, memakai atribut boleh saja karena tidak mengubah apa-apa, asalkan tidak merubah keyakinan iman dia sebagai seorang muslim,” jelasnya.

Machasin mengatakan, larangan yang umumnya disebutkan tokoh agama menurut dia dikarenakan kekhawatiran akan menghilangkan iman. “Kalau zaman khalifah melarang muslim berpakaian non muslim, itu kan kebijakan saat itu,” ujarnya.

Tapi, ujar dia, kondisi Indonesia sendiri saat ini sudah bertradisi menyangkut atribut natal tersebut.

Apakah ini dinamakan toleransi umat beragama yang notabene mayoritas penduduknya termasuk salah satu muslim terbesar di dunia ?

Padahal, sudah berabad-abad yang lalu para ulama salafus shalih melarang Umat Islam ikut serta dalam menyebarkan syiar-syiar kekafiran, termasuk di dalamnya menggunakan atribut natal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- yang merupakan guru dari Al-Imam Ibnu Katsir, Ibnul Qayim Al-Jauziyah dan sejumlah ulama besar lainnya, pernah menulis fatwa tentang haramnya turut serta dalam syiar orang-orang kafir.

“Segala Puji Hanya Bagi Allah, Tidak halal bagi seorang muslim untuk menyerupai mereka (orang-orang kafir) dalam segala hal yang menjadi yang ciri khas perayaan hari-hari besar mereka, tidak membantu mereka dengan makanan, pakaian, menyediakan penerangan, dan lain sebagainya. Kita juga tidak diperkenankan mengadakan perayaan, dukungan finansial, atau kegiatan perdagangan yang bertujuan memudahkan terselenggaranya acara tersebut.

Demikian juga tidak mengizinkan anak-anak berpartisipasi di tempat-tempat bermain dalam rangka memeriahkan hari raya mereka serta tidak berpenampilan perlente demi menyambut acara tersebut.”

Masih dalam uraian fatwa yang sama, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahkan mengutip sikap Umar Bin Khattab yang melarang orang-orang kafir (Kristen) menampakkan hari raya mereka.

” Amirul Mukminin Umar bin Khathab, para sahabat Nabi, dan para ulama menyaratkan bagi orang-orang Nasrani (non-Islam) untuk tidak menampakkan perayaan hari raya mereka di negeri-negeri Islam dan mereka diharuskan merayakannya secara sembunyi-sembunyi di rumah-rumah mereka.”

Jika orang kafir sendiri saja dilarang menampakkan syiar hari raya mereka, bagaimana gerangan dengan kaum Muslimin sendiri?

Sampai-sampai Umar bin Khattab berkata; janganlah kalian mempelajari jargon-jargon orang ajam, dan janganlah kalian memasuki gereja-gereja orang musyrik pada hari raya mereka, karena sesungguhnya kemurkaan Allah turun pada mereka. lantas bagaimana orang akan melakukan apa-apa yang dimurkai Allah, termasuk diantaranya adalah syiar-syiar agama mereka?

Telah berkata, lebih dari satu ulama salaf tentang firman Allah {وَاَلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ} Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu (QS Al-Furqan: 72), mereka berkata adalah hari raya orang-orang kafir. apabila yang dimaksud memberi kesaksian adalah tanpa dilakukan dengan perbuatan, bagaimana dengan dengan orang yang melakukannya itu dengan perbuatan yakni mengistimewakannya.

Dalam kitab musnad dan sunan diriwayatkan bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ وَفِي لَفْظٍ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum (komunitas), maka dia termasuk bagian dari kaum (komunitas) tersebut.” (HR. Abu Daud)

Dalam hadis lain “Bukanlah bagian dari kami bagi mereka yang menyerupai orang-orang selain kami.” Status hadis ini jayyid.

Apabila menyerupai mereka dalam permasalahan kebiasaan saja terlarang, bagaimana pula hukumnya menyerupai mereka dengan sesuatu yang lebih esensial, yakni menyerupai mereka dengan cara turut memeriahkan hari raya mereka ?

Sebagian ulama ada yang mengharamkan atau memakruhkan memakan sembelihan mereka yang diperuntukkan untuk perayaan hari raya mereka. Mereka mengategorikan sembelihan tersebut adalah sembelihan yang dipersembahkan untuk selain Allah.

Mereka para ulama tersebut juga melarang berperan serta dalam hari raya tersebut, baik dalam bentuk memberi hadiah atau menyediakan komoditi dagang untuk memeriahkan hari raya mereka.

Mereka mengatakan :

“ Tidaklah halal bagi seorang muslim mengadakan transaksi dagang dengan orang Nasrani berkaitan dengan maslahat perayaan hari raya mereka, tidak menjual daging, pakaian, tidak menolong mereka dalam suatu perkara yang menjadi bagian dari agama mereka. Karena yang demikian termasuk mengagungkan kesyirikan mereka, memberi motivasi, dan dorongan moral dan material terhadap kekufuran mereka.”

Karena Allah Ta’ala berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“ Tolong-menolonglah kalian dalam perkara kebaikan dan takwa, janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2).

Seorang muslim dilarang tolong menolong dalam hari raya kafir, dengan menjual minuman khamr dan bahan perasan lainnya (untuk dibuat khamr).

Lantas bagaimana gerangan bila yang dilakukan adalah membantu dalam syiar-syiar perayaan hari raya orang kafir?

Dan apabila menolong dalam syiar perayaan orang kafir saja dilarang, bagaimana gerangan dengan melakukan syiar kekufuran itu sendiri?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s